• ANAK KOS #PART1

    Sudah sebulan menjalani lika-liku kehidupan yang keras di kampus perjuangan. Sorak sorai sang biru penyemangat bisa dirasakan tiap kali melintasi bundaran pusat kampus, dan melewati area rindang penuh pepohononan.
    Bukan, bukan untuk pamer atau apa. Kampus ini panas. Bukan, bukan kampus tetangga.
    Kata Ganes, "nggak ono seng kenal kampus iki ndek keluargaku."
    Bisa jadi begitu. Tapi faktanya, baik Ganes dan kembarannya, ada di kampus perjuangan yang sama.
    Kata presiden BEM, kampus ini bukan kampus yang didapat dari matengan orang asing, bukan dari hasil jajahan. Kampus ini berdiri karena mentahan pribumi, bahkan lapangannya sekarang, dulunya didapat dari uang  para mahasiswa saat itu.

    " Kami bukan tolakan UI
    Juga bukan buangan tetangga."

    Yel-yel mas Tamba mengiringi kelas statistika di sore hari yang membuat semua manusia di kelas baper bukan main. Sebagian besar, kami memang bukan tolakan, sebagian besar dari kami, hanyalah orang-orang yang ditahan oleh Tuhan akan mimpinya. Hanya ditahan.

    Berada lebih dari sebulan di kota orang, memang bukan hal yang mudah. Beradaptasi dengan suhu ekstrim dan rela kulit belang, itu sudah pasti. Tiap malam harus berurusan dengan nyamuk, berurusan dengan tagihan-tagihan, berurusan dengan perut, berurusan dengan kemacetan dan tersesat, berurusan dengan hal-hal yang menyedihkan, menyenangkan, dan ..... ah, sudahlah.

    Kata mereka, ini kampus perjuangan.
    Tidak boleh ada tindak kecurangan, kami sebagai mahasiswa dilatih untuk memiliki pemikiran yang berorientasi akan masa depan, tidak lagi seperti anak SMA yang bisa bolos, kabur, dan lalai mengerjakan tugas. Bukan lagi sekedar menyalin pekerjaan teman atau ke pak sobar saat guru izin. Ini kuliah dan akan terasa sangat berbeda. (Terlebih pak sobar belum buka cabang)

    Hari ini, saya di kosan, berkutat dengan kalkulus yang lama-lama membuat saya muak, akhirnya saya melarikan diri ke gadget. Saya memang susah untuk lepas dari handphone, tapi sekalinya saya bisa lepas, saya bisa bertahan dua hari tanpa handphone :)

    Menjadi anak kos itu mudah, asal bisa mengatur uang dengan baik. Usahakan untuk tidak meminta jatah berlebihan karena kita disini kos, untuk sekolah, bukan foya-foya. Kita disini kos, untuk menjadi pakar, bukan pamer.

    Memang susah untuk yang pertama kali kos, sedikit terkejut, tapi lama-kelamaan, ini sudah menjadi kebiasaan bagi saya.
    Ingatlah, manusia pasti hijrah. Karena dengan hijrah segala sesuatu akan menjadi lebih indah. Barakallah <3

0 komentar:

Posting Komentar

recommended :3

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info